Hibernasi

Di pertengahan perjalanan umur 20-an menuju 30 ini, krisis jati diri dan arah gerak mulai menerpa. Terlalu banyak asupan informasi, terlalu banyak pilihan, namun sulit sekali untuk berani menetapkan langkah. Waktu terasa bergerak begitu cepat, padahal begitu banyak yang harus disikat. Mencoba kembali untuk menyusun prioritas dan meneguhkan hati untuk bergerak perlahan tapi pasti. Belajar, bertumbuh, berbagi. Untuk itu, diputuskan bahwa saya akan berhibernasi dari jagad blog sampai batas waktu yang tidak ditentukan untuk lebih memfokuskan diri mengejar hal-hal prioritas yang mengalami ketertinggalan, menghiraukan distraksi.

Setelah menelurkan 115 tulisan secara konsisten setiap minggunya selama 2 tahun lebih sejak November 2011, izinkan saya untuk mengambil cuti dan rehat dari rutinitas tulis-menulis. Sayonara! Sampai jumpa di lain kesempatan dan media.


3 Mitos Penghambat Kehidupan yang Lebih Baik Bagi Kaum Proletar

Akhir pekan ini saya menelusuri kalimat demi kalimat dalam surat tahunan yang ditulis oleh Bill Gates. Di dalamnya, Gates bertutur mengenai 3 mitos yang menjadi batu sandungan dalam proses bangkitnya kaum miskin dari keterpurukan. Menurutnya, keyakinan maupun pandangan sebagian masyarakat dunia bahwa dunia ini bertambah buruk dapat menjadi energi negatif yang menghantui setiap usaha lembaga sosial kemanusiaan maupun pihak independen dalam menjadikan dunia yang lebih baik dan nyaman.

Temukan tulisan 2014 GATES ANNUAL LETTER. Buka mata, buka hati.


Melek Finansial Yuk!

Ngomong-ngomong soal melek, apa sih yang biasanya kamu bayangkan? Dugaan saya, kamu akan membayangkan tentang melek fisik atau ketidakbutaan. Alternatifnya adalah mengenai kemampuan membaca atau melek huruf. Di luar kedua hal tersebut, ada hal penting yang seringkali terlupakan, tidak hanya oleh anak-anak muda, tetapi juga para generasi tua.

Sejak kecil, kita selalu diajarkan bahwa kita bersekolah untuk mendapatkan pekerjaan terbaik, mendapat gaji tertinggi, menabung sebanyak mungkin, dan hidup nyaman secara finansial. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan paradigma tersebut, akan tetapi sayangnya hal tersebut jauh dari sempurna, hanya melingkupi sebagian kecil dari perencanaan keuangan yang semestinya.

Lantas, melek finansial itu makhluk apa sih? Kalo perencanan keuangan binatang apa?

Melek finansial dapat diartikan sebagai kesadaran seseorang akan hal-hal sehari yang dapat menimbulkan dampak finansial terhadap dirinya maupun orang-orang yang ditanggungnya. Sedangkan perencanaan keuangan merupakan bentuk usaha dari seseorang untuk menetapkan tujuan finansial dan menata cara-cara untuk meraih tujuan tersebut.

Apa saja dasar-dasar yang perlu saya ketahui agar saya melek finansial? Berikut ini beberapa hal yang perlu kamu tahu.

  • Kenali kondisi keuanganmu terutama arus kas dan jumlah aset, cermati apa saja yang masih menjadi momok
  • Ketahuilah bahwa setiap orang harus mempunya tujuan finansial yang jelas agar dapat direncanakan
  • Pahami instrumen keuangan yang umum di industri keuangan, seperti tabungan, deposito, kartu kredit
  • Cari tahu jenis-jenis instrumen investasi maupun proteksi yang dapat menunjang tujuan finansial

Setelah kamu banyak belajar mengenai dasar-dasar melek finansial, kamu bisa mulai memikirkan bagaimana memiliki perencanaan keuangan untuk dirimu dan (calon) keluargamu. Berkeuangan? Jangan sembarangan!


Happy Wedding, Dimas & Nurul

Tulisan minggu ini saya dedikasikan untuk Dimas Adhi Nugraha Soegiharto dan Nurul Hudayanti yang baru saja berikrar untuk sehidup semati dalam suka dan duka. Turut berbahagia, semoga menjadi keluarga yang rukun, ikatan batin yang semakin lekat, dan segera dikaruniai momongan ๐Ÿ™‚

Happily ever after, best wishes for both of you!


Membina Relasi

Semalam saya terhenyak di kursi sambil membaca tulisan pendiri Virgin Group, Richard Branson. Richard berbagi ilmu bahwa semua bisnis yang terbilang sukses adalah bisnis yang berhasil membangun koneksi. Menurutnya, relasi atau koneksi adalah aset terpenting dari sebuah perusahaan, tidak hanya koneksi relasi internal antar sesama staff, tetapi juga relasi eksternal.

Sebuah tips, cobalah membina relasi dengan melontarkan pujian. Bukan pujian yang sekenanya, seperti “Keren lo!” atau “Hebat juga tadi!” Usahakanlah untuk membagikan pujian yang jujur dan asli dari observasi, tidak melulu soal pekerjaan. Misalnya, “Tasmu bagus. Beli di mana? Saya sudah berkeliling kota dan belum menemukan tas dengan model dan fungsi yang seperti ini” atau “Dalam workshop tadi pagi, anda terlihat begitu bersemangat sehingga para peserta juga tertular. Hal ini akan membuat mereka lebih bergairah dalam mencapai target penjualan tahun ini.”

Terjebak di cubicle seharian? Beranjaklah dari kursi anda dan berkelilinglah. Sapa rekan-rekan kerja anda, bertemulah di ruangan publik secara formal maupun informal, hubungilah rekan-rekan di luar lingkungan kerja yang memiliki ketertarikan sama! Beralihlah dari mengirimkan email yang terlalu kaku, cobalah mendiskusikan sesuatu melalui pertemuan informal dengan secangkir kopi hangat tersaji di meja.


Tarian Pemanggil Hujan

Tulisan ini tidak akan bercerita tentang bagaimana cara seseorang mendatangkan tetesan air dari langit. Bukan, sungguh bukan. Cerita ini merupakan cerita yang saya coba bagikan kepada pembaca karena menurut saya cerita ini sederhana tetapi membawa pesan yang bermanfaat.

Alkisah di sebuah desa, hiduplah seorang anak muda. Pada suatu hari, anak muda dipanggil menghadap kepala desa dan mendapat sebuah penugasan khusus. Ia diminta untuk mempelajari bagaimana cara memanggil hujan karena desa tersebut sudah mengalami kekeringan berkepanjangan. Singkat kata, anak muda diarahkan untuk berkelana ke desa di seberang sungai untuk bertemu Uka-Uka yang dikenal sebagai pakar dalam mendatangkan hujan.

Dua hari berselang, tibalah anak muda di desa seberang dan tidaklah sulit baginya untuk menemui Uka-Uka karena semua warga mengenalnya dan Uka-Uka adalah sosok yang rendah hati yang selalu bersenang hati menemui tamu-tamunya. Anak muda langsung bertanya, “Bagaimanakah cara Uka-Uka mendatangkan hujan begitu mudahnya?” Uka-Uka pun menjawab, “Amatilah tarianku, kemudian tirulah.” Saran yang begitu sederhana pun didengarkan dan dituruti oleh anak muda. Nyatanya, sekali mencoba tarian tersebut, anak muda langsung berhasil membuat desa seberang menjadi basah. Berbekal ilmu tersebut, anak muda kembali ke desanya untuk menemui sang kepala desa. “Saya sudah menguasai ilmu memanggil hujan,” ujarnya kepada kepala desa. “Tunjukanlah!” seru kepala desa. Satu jam, dua jam, delapan jam pun berlalu tanpa hasil. Kepala desa mulai tidak sabar dan berkata kepada anak muda sambil meninggalkannya, “Mana buktinya? Kembalilah belajar kepada Uka-Uka!”

Dalam perjalanan, anak muda terus berpikir dan merenung. Rasa-rasanya, tidak ada yang salah dengan gerakan tariannya, semua begitu sempurna dan sama sesuai ajaran Uka-Uka. Tibalah anak muda di depan rumah Uka-Uka, mengetuk pintunya, dan dipersilakan masuk ke ruang tamu. Anak muda pun bertanya dengan nada kesal, “Mengapa tarian yang Uka-Uka ajarkan hanya berlaku di desa ini? Padahal gerakan tarian yang Uka-Uka ajarkan sudah saya tirukan sempurna” Uka-Uka hanya tersenyum dan mengajak anak muda keluar rumah. “Perhatikan gerakan tarian hujan saya, wahai anak muda,” kata Uka-Uka dengan sabar. Satu jam, dua jam, delapan jam, 16 jam, 24 jam, 2 hari, 3 hari. Hujan pun tak kunjung turun. Anak muda mulai gusar dan bertanya, “Apakah benar berita yang tersebar di seluruh daerah bahwa Uka-Uka adalah pakar pemanggil hujan ย yang tidak pernah gagal di daerah ini?” Uka-Uka menjawab, “Benar.”

“Lantas, mengapa kamu tidak berhasil kali ini?” tanya anak muda dengan penuh keraguan. Uka-Uka menjawab,” Bukan tidak berhasil, tetapi belum berhasil. Mengapa saya tidak pernah gagal? Sederhana saja, saya terus melakukan tarian hingga hujan turun. Ketekunan saya dalam berusaha tersebut selalu membuahkan hasil, namun dalam rentang waktu yang beragam. Lucunya, seluruh warga di daerah ini selalu menilai hasil akhirnya bahwa saya tidak pernah gagal dalam mendatangkan hujan. Padahal, jika diamati lebih jeli, saya terus menerus gagal tetapi tetap menari tanpa lelah sampai alam memang mau menurunkan hujan.” Akhirnya, anak muda menyadari esensi dari tarian pemanggil hujan. Bukan soal kemampuan teknis belaka, tetapi konsistensi untuk terus melakukannya yang menjadi kunci utama untuk meraih tujuan.


Cari Uang Itu (Tidak) Sulit

Satu sampai dua bulan terakhir ini saya mulai menemukan pola. Pola untuk berpikir dan bertindak lebih fleksibel dalam mengolah apa yang ada dalam diri kita menjadi uang. Ya, hidup memang tidak melulu tentang uang, hidup tidaklah bahagia hanya dengan uang tetapi kita tidak dapat berkelit bahwa segala sesuatu bermuara padanya.

Berangkat dari banyaknya cara yang saya temukan dalam menghasilkan uang yang memang sejauh ini tidak banyak tetapi lumayan, saya menyadari bahwa apa yang sering didengung-dengungkan kebanyakan orang itu bisa jadi malah menjadi senjata makan tuan. Ketika orang tua menasehati anaknya dengan berkata, “Kerja yang benar, tabunglah dan gunakan sebijak-bijaknya karena mencari uang itu sulit.” Sebagian pernyataan tersebut saya setuju, tetapi tidak dengan penutupannya di mana dikatakan mencari uang itu sulit. Pernyataan ini cenderung melemahkan keleluasaan seseorang dalam berkreasi. Padahal, nyatanya, banyak sekali hal yang jika kita lebih jeli dan tidak membatasi diri dapat menghasilkan uang dengan sendirinya.

Mau tahu caranya apa? Kembali ke konsepnya, jika saya beritahu, saya membatasi kehebatan anda dalam berkreasi. ๐Ÿ™‚